Kemiskinan Bukan Alasan Untuk Mengemis

Ndak seperti biasanya, siang ini nafsu makan saya agak sedikit berbeda. Kalau biasanya saya makan di warung sederhana depan kantor, kali ini saya pengin sekali makan di tempat makan lesehan yang lokasinya agak jauh dari tempat saya bekerja. Dan demi menuruti keinginan itu, sayapun lalu menawarkan seorang teman untuk saya ajak makan di tempat tersebut. Tepat datangnya jam makan siang kamipun segera berangkat. Sesampainya di sana saya sengaja memilih tempat bersila yang ada di pinggir jendela menghadap lorong yang menuju perkampungan. Saya ambil duduk, sementara teman saya memesan makanannya.
Selang beberapa saat kemudian, pesanan datang. Urap-urap plus tempe goreng hangat dan ayam panggang bumbu rujak itupun membuat perut saya semakin gencar berkeroncong ria. Pelayannya yang ramah, bersih dan cantikpun semakin membuat nafsu makan saya bertambah. Bersamaan degan itu seorang anak perempuan 9 tahunan melintas di lorong sebelah sambil membawa setampi kue di atas kepalanya. Dengan menatap melas, gadis itu datang menghampiri saya lalu berkata, “Om… beli kuenya Om… masih hangat dan enak lho rasanya!”
“Ndak Dik, trimakasih… saya mau makan nasi saja,” jawab saya menolak halus. Sambil tersenyum gadis kecil itupun berlalu dan kemudian duduk di pinggir trotoar di ujung lorong di samping tempat saya makan. Setengah jam kemudian, acara makan siang kami selesai. Saya bergegas ke kasir dan teman saya beranjak menuju motor menunggu saya di tempat parkir. Melihat teman saya keluar, gadis kecil itu datang lagi menghampiri dan menyodorkan kue-kuenya. Samar-samar masih sempat saya menguping pembicaraan mereka, “Ndak Dik… makasih, saya sudah kekenyangan ini.” Sambil terus mengikuti, gadis itupun berkata lagi, “Kuenya dibawa pulang aja Om… buat oleh-oleh.” “Ndak.. ndak….! Saya mau kerja lagi ini soalnya…” jawab teman saya sedikit kasar.
Karena ndak tega melihat mereka bersitegang di kepanasan, akhirnya sayapun bergegas menghampirinya. Dan dompet yang belum sempat saya masukkan ke kantongpun saya buka kembali. Beberapa lembar uang ribuan hasil kembalian yang tadi saya masukkan, saya tarik lagi keluar dan kemudian saya berikan padanya. “Maaf ya Adik cantik…. kami ndak mau kuenya. Uang ini anggap saja sebagai sedekah dari saya.”
“wuuuaaaah…. terima kasih ya Om….,” Dengan senang hati disongsongnya uang itu, lalu dia bergegas melangkah kembali ke trotoar. Sesampainya di atas trotoar gadis itu lalu memberikan uang tadi kepada pengemis tua yang kebetulan sedang lewat di depannya. Tanpa berkedip kamipun memperhatikan itu semua dengan seksama. Sayapun merasa heran, dan bahkan teman saya malah sedikit tersinggung. Iapun langsung menghampiri dan menegurnya, “Hey Dik…! Kenapa uangnya malah kamu berikan kepada orang lain? Bukannya kamu berjualan demi untuk mendapatkan uang? Tapi kenapa setelah uangnya ada di tanganmu, kamu justru memberikannya ke pengemis itu?”
“Maafkan saya ya Om… Jangan marah… saya hanya menuruti pesan ibu saya yang mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan kue atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om itu bilang, ini uang sedekah, mangkanya uangnya saya berikan kepada pengemis itu. Kasihan dia, sudah tua dan kelihatan letih.”

Mak dieggh..! Hati saya serasa bergetar mendengar jawaban itu, kata-katanya membuat saya tertampar. Terima kasih ya Allah.. melalui bocah kecil ini, telah Engkau sadarkan kami dari sikap sombong dan angkuh yang sedari tadi melekat di dalam hati. Rasa takjub yang luar biasapun nampak terpancar juga dari sinar mata teman saya. Ia mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah Dik…. maafkan kata-kata saya tadi ya… berapa banyak kue yang kamu bawa ini? Saya borong deh semuanya buat oleh-oleh temen-temen saya di kantor.” Dengan mata berbinar gembira, gadis kecil itupun segera menghitung jumlah kuenya. Sambil menyerahkan uang, teman saya lalu berkata, “Terimakasih ya Dik, atas pelajarannya hari ini. Sampaikan salam saya buat ibu kamu.”
Walaupun sepertinya ndak ngerti tentang pelajaran apa yang dikatakan teman saya itu, dengan sangat gembira gadis kecil itupun menerima uang tersebut sambil berucap, “Terima kasih banyak ya Om… Ibu saya pasti akan gembira sekali karena hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami.”

~ oleh sangtrainercilik pada 03/01/2012.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: