Kisah Chirtin

“Setiap kali datang kesusahan, aku mengadu kepada-Nya. Setiap hatiku sedih, kupanggil nama-Nya, Ya Allah..Ya Allah, sebanyak-banyaknya. Ketika kusebut nama-Nya,hatiku merasa tenang, beban berat yang kurasakan menjadi ringan. Biarlah masa lalu tinggal cerita, hanya kepada-Nya kupasrahkan segalanya.”

BEGITU PERASAAN Christin yang terdalam. kala mengenang masa lalunya yang gelap. la teringat rumah tangganya sempat diterjang “badai” yang sangat hebat. Rapuh, itu sudah pasti. Apalagi setelah menyadari kodratnya sebagai perempuan biasa, ketidakberdayaan itu tak bisa ia hindari. Bukan sesekali, Christin ingin lari dari kenyataan yang sesungguhnya. la ingin sek terbang jauh, tanpa peduli anak-anaknya rnengiba, menjerit tanpa henti.

Ketika beban hidup nyaris tak terselamatkan lagi, ternyata Tuhan punya rencana lain, yang tak diketahui manusia mana pun Tuhan masih merangkul Christin yang rapuh, tatkala ia harus memutuskan perkara besar dalam rumah tangganya bercerai dengan suarninya yang dianggapnya begajul waktu itu.

Selama 18 tahun, Christin mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami dan keempat anaknya (Samuel, Maria. Paulus, dan Andreas) hingga tumbuh dewasa. Namun dalam perjalanan hidupnya, ia tak sebahagia seperti yang didambakan setiap wanita umumnya. Betapa tidak, Christin harus menghadapi perilaku suami yang pemabuk, “tukang main” perempuan, bahkan seringkali memukul dirinya hingga terluka. Bisa dibayangkan, beban yang dirasakan wanita setengah baya ini: rasa takut, pikiran kacau, dan hati yang tak tenang.

Kala hasrat perceraian itu kian menguat, naluri ibu dalam diri Christin pun muncul. la berpikir seribu kali untuk menentukan pilihan hidupnya yang ruwet. Kalau saja ia ibu yang egois, barangkali sudah dari dulu ia bercerai dengan suaminya. Lantas, apa yang membuatnya bertahan hidup dan mengurungkan perceraian dengan suarninya itu? Apalagi kalau bukan faktor anak. la teringat ketika mendengar protes dan kemarahan Samuel, anak sulungnya (kelas 3 SMA) begitu tahu orangtuanya akan berpisah. Waktu itu Samuel bilang begini, “Saya kan tidak pernah minta dilahirkan, Mama. Kalau Mama-Papa cerai, kami anak-anak jadi korban. Bukan hanya saya: tapi juga adik-adik saya jadi korban. Sekali lagi, apakah kami minta dilahirkan ke dunia? Sementara Mama korbankan hidup kami. Sepanjang perjalanan hidup kami, Mama hanya mencari kepuasan dan kesenangan sendiri. Bagaimanapun Papa-Mama adalah orangtua saya. Kami anak-anak berharap, jangan sampai ada perceraian. Jadi pikirkanlah kami, Ma,” ujar Christin menirukan kemarahan Samuel. Selama ini Samuel tidak tinggal dengan mamanya. Dia tinggal bersama omanya (neneknya).

Siang itu, kata-kata pedas menyambar telinga Christin. Tanpa diduga, kemarahan Samuel membuat ia menimbang kembali keputusan cerainya. Terlebih, saat Samuel berkata lirih, “Saya memang senang tinggal dengan Oma, tapi sesenang-senangnya, saya lebih baik hidup susah sama Mama. Asalkan jangan ada perceraian,” tambahnya.

Sehabis ribut dengan putra sulungnya, Christin dihadapkan lagi dengan berita kaburnya anaknya yang nomor tiga, Paulus, dari asrama Katolik. Bumi seperti terguncang, langit seakan runtuh ketika Christin mendengar itu semua.

“Di saat menghadapi problema hidup yang rumit, saya memerlukan kekuatan dari dalam. Sebagai manusia biasa, saya betul-betul tak berdaya. Apa pun dan bagaimana pun caranya, saya harus meraih ketenangan itu. Setidaknya, sudah beberapa aliran Kristen saya masuki. mulai dari Tiberias, Bahasa Roh, Saksi Jehovah, hingga Pantekosta,” ujar ibu kelahiran Jakarta 17 Februari 1964 ini.

Sejak kecil, Christin yang lulusan D3 Akademi Perbankan, dibesarkan di lingkungan Katolik yang taat. Sebagai ‘Katolik Keturunan’ ia merasa tidak puas dengan ajaran yang dianutnya. la terlalu kritis dengan konsep dan doktrin ajaran agamanya. Tidak aneh, bila kemudian ia selalu berpindah dari aliran yang satu ke aliran yang lain. Namun, dari beberapa aliran Kristen itu, tidak satu pun yang membuatnya tenang. Justru semakin terombang-ambing.

Curhat dengan Ustazd
Dalam situasi hidup yang penuh ketidakpastian, Christin selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi petunjuk dan jalan yang benar, Entah angin apa yang mempertemukan dirinya dengan Ustaz muda (32) bernama Iriansyah, Januari lalu. “Ada dorongan kuat yang membuat saya mendatangi Ustaz muda itu. Saya betul-betul Curhat habis. Pikir saya; siapa lahu ustaz bisa membantu. Sebelum curhat saya bilang: Ustaz nggak perlu kasih komentar. Cukup dengarkan saja keluhan saya, Ustaz pun setuju.”

Dari awal hingga akhir, Ustaz Iriansyah menjadi pendengar sejati, sekalipun Christin bicara panjang lebar tentang backgroundnya. sesekali terdengar suara isak dan desahan nafas panjang. “Terus terang: saya tidak tahu mana yang benar. Mana yang salah. Kalau memang suami tidak bisa membawa kebahagiaan pada saya, biar Tuhan ceraikan saya. Tapi saya berharap perceraian ini tidak berdampak pada anak-anak saya. Dan kalau memang pada akhirnya saya berlanjut dengan suami saya, terus terang, badan ini rasanya tidak kuat lagi menanggung beban. Saya tahu mati itu urusan Tuhan, tapi kalau saya sakit atau gila, siapa yang urusin saya. Sehat saja seperti ini, apalagi sakit. Yang jelas, bukan sekali saya berniat bunuh diri” cerita istri Solas Hasibuan ini sedih.

Setelah curhat dengan Ustaz, Christin mengaku jiwanya merasa agak plong. Karenanya, di ujung cerita, ia minta saran pada Ustaz agar diberi jalan keluar. Lalu apa jawab ustaz? “Ustaz sempat terdiam. Dan, sepertinya dia tak punya jawaban dan solusi yang tepat dengan problema hidup saya yang amburadul. Tapi sebagai Ustaz ia tetap berusaha menenangkan saya. la hanya menyarankan, agar saya membaca Ya Allah..Ya Allah seratus kali setiap malam sebelum tidur, meski ia tahu saya bukan Muslimah. Ustaz mengaku tidak bisa berbuat banyak, tapi mungkin Allah punya rencana sendiri, katanya.

“Malam harinya, saya coba baca Ya Allah..Ya Allah seratus kali seperti disarankan Ustaz. Bukan hanya menjelang tidur setiap desah nafas, saya lafazkan nama itu, meski saya masih seorang Katolik, Pas hari ketiga, saya bermimpi disuguhi air putih dan bening pada sebuah gelas. Saya bisa merasakan sejuknya air itu bila diteguk.”

Keesokan harinya, Christin bertanya pada Ustaz tentang makna mimpinya semalam. Tapi Ustaz tidak memberi jawaban. la hanya mengatakan tidak tahu, dan meminta Christin terus melafazkan Ya Allah..Ya..Allah. “Apa yang Ustaz sarankan, saya patuhi. Walhasil, saya seperti memiliki kekuatan tersendiri. Meski suami tak lagi mukul, tapi bicaranya masih kasar. Seiring perjalanan waktu, proses hidup pun terus berjalan.

Anak Masuk Islam

Karena sering berhubungan dengan Ustaz, Christin merasa sudah meraih ketenangan batin yang selama ini ia cari. Lantas, tertarikkah Christin pada Islam? “Waktu itu saya hanya mencari ketenangan, bagaimana pun caranya. Di Kristen saya tidak berhasil mendapatkan ketenangan di kala jiwa saya ambruk, keluarga pun hampir berantakan,” jawabnya diplomatis.

Tapi suatu ketika, Christin mengetahui putranya yang nomor tiga (Paulus) masuk Islam, bahkan ingin masuk pesantren. Kepada mamanya, Paulus mengaku merasa tenang kalau shalat. Tanpa pikir panjang, Christin pun mencari tahu, apa yang membuat belahan hatinya itu merasa tenang dan hatinya menjadi tenteram.

Sebagai seorang ibu yang membesarkan anaknya. pantas bila ia menanyakan apa yang dirasakan putranya setelah masuk Islam. Sebab, pindahnya Paulus ke Islam, merupakan tamparan yang hebat. la harus membayar mahal itu semua.

“Selelah kamu masuk Islam apa yang kamu rasakan?” tanya Christin.
“Seperti beban berat kalau kita lepaskan, akan menjadi enteng. Atau seperti saat kita dahaga, setelah meneguk air yang sejuk, rasa dahaga itu pun akan hilang,” jawab Paulus yang berencana masuk pesantren untuk belajar Islam lebih dalam.

Mendengar itu, spontan hatinya berkata, “Sebelum anak saya ke pesantren, saya harus memeluk Islam. Kata hati itulah yang kemudian saya sampaikan pada Ustaz. Saya tidak mau anak saya jalan sendiri. Terlebih saat dia mengatakan, shalat membuat hatinya tenang dan merasakan kenikmatan tersendiri. Itu berarti, anak saya telah meraih kenyamanan. Bila memang demikian, saya harus ikuti jejaknya,” aku Cristin.

Tepat 29 Februari 2004 lalu, Christin bersama putra bungsunya Andreas Calvin (kelas VI SD) resmi menjadi Muslimah. Di Masjid Al Jabbar, Jatibening Estate, ia mengucapkan syahadat dibimbing Ustaz Iriansyah. “Setelah saya masuk Islam, saya bertekad untuk bisa shalat lima waktu. Meski shalat saya masih sebatas gerak, dan belum bisa bahasa Arab, saya akan terus belajar. Bagi saya, shalat adalah kunci kehidupan, di samping membuat hati saya menjadi tenang.”

Suami Insaf

Berjalan tiga bulan, sang suami minta didoain dan diajarkan shalat. Mendengar itu Christin kaget seraya tersenyum kecil. “Inikah pertanda hidayah baginya? Oh, ternyata diam-diam suami saya suka memperhatikan saya shalat. la seperti melihat cahaya terang di sekitar wajah saya. Maklum, suarni saya pernah belajar ilmu kebatinan, sehingga ia bisa membedakan cahaya biasa dengan cahaya ilahi. Singkat cerita, suami saya minta disyahadatkan oleh Ustaz Iriansyah. “Selama 18 tahun, rasanya saya baru mengenal suami saya belakangan ini, terutama sejak ia masuk Islam. Akhlaknya hari demi hari semakin baik,’: tutur Christin Siti Khadijah bahagia.

~ oleh sangtrainercilik pada 26/01/2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: